Sejarah lokal
Desa medewi
Dosen pengampu:
Drs.Abdul Somad,M.Pd
Di susun oleh:
Alif Rahman Hidayat (11872010385)
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI
DAFTAR
ISI
Bab
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
............................................................................................................2
1.2
Rumusan masalah.........................................................................................................3
1.3
Tujuan ..........................................................................................................................3
Bab
II Tinjauan Pustaka
2.1
Teori.............................................................................................................................4
2.2
Metodelogi...................................................................................................................4
Bab
III Pembahasan
3.1 Profil
Tempat..............................................................................................................5
3.2 Sajian
Data..................................................................................................................5
3.3
Interprestasi
Data......................................................................................................10
Bab
IV Penutup
4.1
Kesimpulan.................................................................................................................11
4.2 Daftar
Pustaka............................................................................................................12
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia hidup di
berbagai belahan dunia membentuk bangsa-bangsa dengan berbagai bentuk postur,
karakter, adat, budaya, dan pandangan hidupnya yang beranekaragam sesuai dengan
karakteristik lingkungan alam dan geografis tempat hidup mereka. Proses adaptasi
manusia dengan alam akan melahirkan budaya lokal dalam masyarakat.
Dan
dalam sejarah lokal desa medewi, Sebelumnya
Medewi ini merupakan hutan Ketket yakni tanaman yang mempunyai banyak duri. Setelah hutan tersebut dibuka untuk
kawasan permukiman penduduk maka orang-orang yang tinggal dan menetap di
kawasan inipun semakin bertambah, dan yang perlu kita ketahui bahwa orang asli
desa medewi adalah orang pendatang dari desa Air kuning,kecematan Negara
kemudian disusul oleh golongan dari masyarakat Loloan Kecamatan Negara dan
selanjutnya diikuti oleh golongan dari masyarakat Mendoyo Dauh Tukad kecamatan
Mendoyo.
Dan
merekapun membuka hutan berduri itu dengan tujuan untuk membangun tempat baru
untuk tempat tinggalnya, dan setelah mereka membuka atau membabat hutan
tersebut maka mereka kemudian membagi
wilayahnya masing-masing, dan pembagian wilayah tersebut sesuai dengan urutan
datangnya mereka, yang pertama datang wilayahnya didepan dan yang datang pertengahan
wilayahnya di tengah kemudian yang datang paling belakanagan wilayahnya
dipedalaman sampai batas hutan.
1.2
Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah kami paparkan diatas maka kami
memeiliki beberapa permasalahan diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø Bagaimanakah Sejarah terbentuknya Desa Medewi?
Ø Siapakah Masyarakat asli Desa Medewi?
Ø Budaya apa sajakah yang ada di Desa Medewi?
Ø Peninggalan-peninggalan apa sajakah yang ada di Desa
Medewi?
Ø Bagaimanakah sistem Pemerintahan di Desa Medewi?
Ø Pariwisata apakah yang ada di Desa Medewi?
Ø Filosofi apakah yang ada di Desa Medewi?
1.3
Tujuan
Ø Mengetahui asal mula kata Medewi di ambil
Ø Mengetahui orang asli Desa Medewi
Ø Mengetahui proses terjadinya Desa Medewi
Ø Mengetahui sistem Pemerintahan di Desa Medewi
Ø Mengetahui Budaya yang ada di Desa Medewi
Ø Mengetahui Pariwisata yang ada di Desa Medewi
Ø Mengetahui Filosofi yang ada di Desa Medewi
Bab
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Teori
Menurut
Bapak “Mansyur (mantan Sekdes)”
bahwa desa Medewi adalah dulunya hutan yang banyak duri yang ditumbuhi sejenis
pohon yang mempunyai duri yang banyak
sekali dan pohon itu sering dikenal
dengan sebutan pohon keket atau pohon api-apian, kemudian dalam bahasa
Bali, arti pohon yang banyak duri itu
disebut pohon meduwi, oleh
sebab itu masyarakat yang pertama kali tinggal di hutan yang banyak duri ini,
memberi nama desa ini dengan sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang
banyak duwinya(duri), kemudian lama kelamaan nenek moyang atau orang tua zaman dulu yang ada di desa Meduwi ini, sering memplesetkan kata Meduwi ini menjadi kata
Medewi dan dengan sering terjadinya plesetan kata tersebut kemudian
menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya generasi penerusnya pun ikut-ikutan
menyebut kata meduwi menjadi kata medewi hingga saat ini.
2.2
Metodelogi.
Ø Data dan Sumber data
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif maka sumber data utamanya adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lainnya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif maka sumber data utamanya adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lainnya.
Bab
III Pembahasan
3.1
Profil Tempat
Desa Medewi, Kecamatan Pekutatan,Kabupaten
Jembrana, Provinsi Bali.
3.2.Sajian
Data
A . Sejarah Nama Medewi
Asal
mula kata Medewi diambil dari sebuah kalimat “ hutan yang banyak duri”, hutan
yang banyak duri itu adalah sejenis pohon
yang mempunyai duri yang banyak sekali dan
pohon itu sering dikenal dengan sebutan pohon keket atau pohon api-apian, kemudian dalam bahasa Bali, arti pohon yang banyak duri itu disebut punyan
meduwi, oleh sebab itu
masyarakat yang pertama kali tinggal di hutan yang banyak duri ini, memberi
nama desa ini dengan sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang
banyak duwinya(duri), kemudian lama kelamaan nenek moyang atau orang tua zaman dulu yang ada di desa Meduwi ini, sering memplesetkan kata Meduwi ini menjadi kata
Medewi dan dengan sering terjadinya plesetan kata tersebut kemudian
menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya generasi penerusnya pun ikut-ikutan
menyebut kata meduwi menjadi kata medewi hingga saat ini. (Mansyur,20.00 WITA,24 November 2012, desa
Medewi Persinggahan).
B.
Sejarah Desa Medewi
Masyarakat pertama yang menemukan dan menempati desa
medewi adalah masyarakat dari desa Air Kuning Kecamatan Negara, proses awal mula mereka menemukan desa medewi
ini dengan cara berjalan kaki menyusuri pantai sampai kepada tempat tujuan,
tempat pertama mereka singgahi adalah muara sungai medewi, yang saat ini
dijadikan sebagai pelabuhan jukung atau perahu dan disana mereka mampir untuk
singgah dan istirahat setelah mencari
kerang-kerang dan kayu bakar yang ada di pesisir pantai, kemudian mereka pulang kembali ke desanya (air
kuning).dan setelah beberapa hari kemudian
merekapun kembali menyusuri pantai dengan aktivitas yang sama mencari kerang dan kayu bakar yang banyak
terdampar di pesisir pantai, akibat air sungai
yang meluap karena hujan yang besar yang kemudian banyak membawa potongan-potongan kayu kecil maupun besar
dari hutan, dan mereka kembali singgah
untuk beristrahat setelah mencari kerang dan kayu bakar, kemudian mereka
beranggapan bahwa tempat yang mereka singgahi itu merupakan tempat yang
sangat strategis.
Dan
karena posisi tempat persinggahan itu
strategis, Merekapun pulang dan kembali dengan membawa orang-orang
lebih banyak, kemudian gelombang pertama yang datang itu terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1.
Kelompok pertama menuju kesebelah timur desa Medewi yang
kemudian mereka membuka desa, yang saat
ini biasa disebut sebagai desa pulukan
dan desa pekutatan.
2.
Dan kelompok ke dua menuju ke desa Medewi yang di pimpin oleh Pak Daris dan
Pak Rais,mereka adalah dua saudara
kandung, yang kemudian mereka diketahui
yang membabat hutan dari tempat pertama mereka singgahi sampai masuk ke dalam hingga panjangnya sampai 2 ½ Km yang saat ini
sebagai batas wilayahnya adalah (Pura Dalem) ujung utara desa medewi, oleh
karena itu tempat yang pertama mereka singgahi ini sekarang di kenal dengan
sebutan dusun persinggahan.
3.
Kemudian kelompok ke tiga menuju sebelah barat desa medewi dan merekapun juga
membabat hutan dengan cukup panjang dan luas, kemudian mereka menetap disana
dan membangun sebuah desa yang saat ini dikenal dengan sebutan desa Yeh Sumbul.
Awal
dibukanya pemukiman di daerah Medewi diperkirakan tahun 1912 dan kemudin terbentuknya desa Medewi di perkirakan tahun 1914 yang dulunya masih menjadi satu antara medewi dan
pulukan, dan dengan seiringnya berjalan
waktu medewi akhirnya ingin membentuk desa sendiri dan akhirnya memisahka diri
dari Pulukan pada tahun 1928,jadi berdirinya desa medewi diperkirakan dari awal
mulanya terpisahnya dengan desa pulukan tahun 1928.
Kemudian
gelombang
ke dua disusul oleh kelompok rombongan dari desa Loloan kecamatan Negara,yang dimana mereka datang dan singgah di dusun persinggahan ini dan
menuju ke utara pura dalam( batas desa medewi bagian utara), yang kemudian
melanjutkan pembabatan hutan hingga panjangnya sampai 1Km, untuk mereka tempati
sebagai tempat tinggal.dan merekapun membentuk sebuah kelompok masyarakat yang
saat ini dikenal sebagai kampung Loloan atau Dusun Loloan
Kemudian
gelombang ke tiga disusul oleh kelompok rombongan dari desa mendoyo dangin tukad yang
mereka kemudian masuk ke desa medewi dan
berjalan menuju utara untuk melanjutkan pembabatan hutan di utara kampung
Loloan tersebut sampai ujung batas hutan, dan
merekapun membentuk sebuah kelompok
kemudian dari orang-orang tersebut rata-rata orangnya beragama
hindu dan darisanalah kemudian mereka memberi nama kelompoknya sebagai dusun
Delod Setre.
Jadi
agama yang pertama kali masuk di desa Medewi adalah agama Islam yang berasal
dari orang air kuning dan Loloan yng kemudian di susul oleh agama Hindu
yang di bawa oleh orang Mendoyo Dangin
Tukad, jadi sampai pada saat ini di desa medewi
terdiri dari dua agama yaitu Islam dan Hindu.
C. Budaya di Desa Medewi
Menurut
Bapak Mansyur budaya yang ada dimasyarakat medewi semenjak
awal munculnya desa Medewi ada beberapa
budaya yaitu:
1.Budaya Purdah (Dikir)
adalah sejenis kesenian yang menggunakan alat seperti rebana tapi ukuranya
lebih besar, yang isi kesenian ini adalah sebuah syair-syair yang menceritakan
kisah-kisah Nabi dan Rosul, seperti kisah Isra´ dan Mi´raj perjalanan nabi muhammad dari Masjidil Harom
ke Masjidil Axshol menuju ke Hidratul Muntaha.
2.Budaya Hadrah
adalah sejenis kesenian yang penjabaran dan perkembangannya dari Purdah yang
alatnya seperti rebana dan sejenisnya yang di dalamnya ada sebuah
kombinasi-kombinasi gerakan tertentu dan personilnya diambil dari generasi muda
dan khsusnya bagi laki-laki.
3. Budaya Sambroh
adalah sejenis budaya yang hampir sama
dengan hadrah yang dimana alat musik
yang digunakan seperti rebana dan sejenisnya yang didalamnya ada
kombinasi-kombinasi tarian yang dilakukan oleh kaum hawa,(perempuan),khususnya
bagi perempuan muda.
D.
Peninggalan sejarah Desa Medewi
Menurut
Bapak Mansyur peninggalan-peninggalan dari desa Medewi
adalah peninggalan-peninggalan yang berbentuk prasasti-prasasti yang dimana
prasasti-prasasti tersebut sejenis
tombak(alat perang),patung-patung,dan lencana-lencana(surat berharga) yang pada
saat ini masih disimpan di Pura dalem, tetapi
menurut beliu peninggalan-peninggalan sejarah desa Medewi sebenarnya masih
banyak, tetapi karena tidak ada yang merawat dan menjaga maka satu persatu
peninggalan tersebut hilang dan musnah. Dan yang tersisa pada saat ini sekarang
masih tersimpan di Pura dalem.
E.
Sistem Pemerintahan Desa Medewi
Medewi merupakan desa yang ada di Kecamatan Pekutatan,Kabupaten
Jembrana ,Provinsi Bali, yang luas wilayahnya sekitar 2.561 ha dengan jumlah
penduduk 3.860 jiwa dan dalam sistem
pemerintahan desa terdiri dari beberapa perangkat desa yaitu:
1.
Kepala desa
2.
Sekertaris desa
3.
Kelian dinas atau banjar
4.
Kelian dusun
Kepala desa yang sekarang, di jabat
oleh I Gusti Ketut Nade, dan Sekertaris desa, di jabat oleh I
Ketut Darsana, yang dimana desa Medewi terdiri dari lima dusun yaitu:
1.
Dusun Persinggahan
2.
Dusun Loloan
3.
Dusun Delod Setra
4.
Dusun Baler Setre
5.
Dusun Dauh Pangkung Selepo
F.
Pariwisata
Pariwisata
yang ada di desa medewi adalah pantai medewi(Medewi Beach) yang dimana ada sebuah tanjung pulau yang
menyebabkan adanya ombak yang besar dan kemudian dimamfaatkan sebagai tempat
olahraga selancar( Surfiang), dan penemu pantai Medewi sebagai tempat Surfing
adalah orang Australia “John Davied, Tahun
1972” (Mansyur,20.00 WITA,24 November 2012, desa Medewi Persinggahan).dan
setelah ditemukannya lokasi Surfing tersebut maka penduduk desa medewi pun,
mulai mempelajari dan menggeluti olahraga Surfing dan dengan seiring berjalannya waktu, kemudian banyak
turis yang berdatangan untuk merasakn
ombak yang ada di Medewi yang terkenal dengan ombaknya yang bagus dan besar,
kemudian dengan banyaknya turis-turis yang datang untuk liburan, akhirnya
Masyrakat Medewi mempunyai sebuah inisiatif untuk mulai membangun
penginapan-penginapan bagi turis yang sedang berlibur dan seiring perkembangan zaman yang sudah
modern penginapan-penginapan tersebut direnovasi menjadi hotel-hotel mewah dan
berkelas yang sesuai standar Internasional.
Keindahan
Bali bukanlah isapan jempol belaka. Dan salah satu pantai yang patut diberikan
apresiasi karena keindahannya ialah Pantai Medewi. Pantai ini menjadi tujuan
wisata kalangan wisatawan domestik maupun asing karena selain memiliki panorama
yang memukau juga akses jalan untuk menjangkaunya sangat mudah. Untuk mencapai
pantai ini, cukup dengan berjalan kaki sekitar 100 meter dari Jalan Raya
Denpasar – Gilimanuk. Sehingga karenanya, banyak diantara turis lokal khususnya
(terutama backpacker) yang menggunakan modal transportasi umum untuk berkunjung
ke Medewi.
Di sepanjang
perjalanan menuju ke kawasan Pantai Medewi ini akan terhampar pemandangan
sawah-sawah yang luas dan berjejer di sepanjang tepian pantai sehingga menambah
kesan alami dan eksotis. Terlebih kalau Anda berkunjung ke Pantai Medewi ini
berbarengan dengan musim panen maka akan terlihat padi yang menguning disertai
dengan segala aktifitas petani yang sedang memetik hasil padinya. Pemandangan
tersebut tentu akan memberikan impirasi tersendiri sehingga tak jarang banyak
wisatawan yang berusaha mengabadikan momen-momen langka itu dengan kamera yang
dibawanya.
Memasuki
kawasan pantainya, maka Anda akan menemukan pantai yang berbatu dengan sapuan
ombaknya yang tergolong besar. Secara umum, bentuk pantai ini landai di bagian
baratnya dan terlihat lekukan yang memanjang ke arah selatan. Disamping itu ada
jejeran perahu-perahu nelayan yang diatmbatkan di tepi pantai sehingga akan
menambah daya tarik dan keindahannya. Karena ombaknya yang terbilang besar maka
pengunjung yang hendak berenang diharap untuk berhati-hati supaya tidak terjadi
hal-hal yang diinginkan.
Panorama
keindahan pantai akan semakin terasa tatkala sore menjelang dimana lembayung
senja yang begitu memesona akan terlihat. Itulah momen yang ditunggu-tunggu
oleh para wisatawan dimana mereka bisa menyaksikan matahari kembali ke
peraduannya (sunset). Momen sunset ini akan semakin terasa paripurna dan
sempurna tatkala Anda datang kesini disertai dengan kekasih atau orang yang
paling dicintai supaya hal yang paling dinantikan tersebut bisa dinikmati
bersama. Sungguh keadaan tersebut akan mencipta kenangan dan impresi didalam
jiwa yang tak mungkin terlupakan mungkin dalam seumur hidup.
Sementara
dibagian atas pantai ini sudah terpasang sandaran yang dimaksudkan supaya para
pengunjung bisa menimkmati keindahan dan panorama Medewi secara sempurna. Dari
sandaran itu pula pengunjung bisa menyaksikan laut sekitar Medewi beserta
dengan ombaknya yang besar sembari bersantai menikmati keadaan sekitar. Keadaan
seperti itulah yang biasanya banyak membuat wisatawan kangen dan ingin
berkunjung ke Medewi lagi dan lagi. Pesona Medewi memang tak akan pernah
dimakan zaman, dan tak akan sirna dihempaskan masa.(www.Medewibeach.com)
G.Filosofi
pohon keket atau
pohon api-apian adalah pohon yang
bnyak duri yang kemudian dalam bahasa Bali,
arti pohon yang banyak duri itu disebut pohon meduwi, oleh sebab itu masyarakat yang pertama
kali tinggal di hutan yang banyak duri ini, memberi nama desa ini dengan
sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang banyak duwinya(duri).
Budaya Purdah (Dikir)
adalah sejenis kesenian yang menggunakan alat seperti rebana tapi ukuranya
lebih besar, yang isi kesenian ini adalah sebuah syair-syair yang menceritakan
kisah-kisah Nabi dan Rosul, seperti kisah Isra´ dan Mi´raj perjalanan nabi muhammad dari Masjidil Harom
ke Masjidil Axshol menuju ke Hidratul Muntaha.
3.3
Interprestasi Data
Dari hasil
Hipotesa yang didapatkan yang berawal dari Teori para tokoh ,bahwa desa Medewi
adalah sebuah desa yang dulunya banyak terdapat hutan berduri, yang kemudian oleh
masyarakat pendatang dari Air kuning, Loloan dan Mendoyo dangin Tukad ini
kemudian membabat hutan tersebut hingga ke batas hutan yang paling dalam, dan
dengan banyaknya hutan berduri tersebut akhirnya desa ini dinamakan sebagai desa
Meduwi dan oleh masyrakat penduduk setempat kata Meduwi sering diplesetkan menjadi kata Medewi hingga pada
saat ini, Medewi merupakan desa yang ada di Kecamatan Pekutatan,Kabupaten
Jembrana ,Provinsi Bali, yang luas wilayahnya sekitar 2.561 ha dengan jumlah
penduduk 3.860 jiwa dan di zaman Modern sekarang ini desa Medewi
terkenal dengan keindahan pantainya, yang mempunyai daya tarik tersendiri yaitu
ombaknya yang besar yang bisa dimamfaatkan sebagai ajang olahraga Surfing, bagi
masyarakat sekitar dan Turis-turis yang sedang berlibur.
Bab
IV Penutup
4.1 Kesimpulan
Desa
Medewi merupakan desa yang pertama kali ditemukan oeh masyrkat pendatang dari
desa air kuning, Loloan dan Mendoyo dangin tukad dan yang dulunya hanya hutan
yang banyak ditumbuhi pohon berduri atau sering dikenal dengan sebutan pohon
keket atau pohon api-apian, kemudian dalam bahasa Bali, arti pohon yang banyak duri itu disebut pohon
meduwi, oleh sebab itu
masyarakat yang pertama kali tinggal di hutan yang banyak duri ini, memberi
nama desa ini dengan sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang
banyak duwinya(duri), kemudian lama kelamaan nenek moyang atau orang tua zaman dulu yang ada di desa Meduwi ini, sering memplesetkan kata Meduwi ini menjadi kata
Medewi dan dengan sering terjadinya plesetan kata tersebut kemudian menjadi
sebuah kebiasaan yang akhirnya generasi penerusnya pun ikut-ikutan menyebut
kata meduwi menjadi kata medewi hingga saat ini.
dan luas wilayah desa Medewi 2.561 ha dengan
jumlah Penduduk 3.860 jiwa, dengan sistem pemerintahan yang terdiri dari beberapa
perangkat desa seperti Kepala Desa, Sekertaris Desa, Kelian dinas(banjar) dan
Kelian dusun,dan terbagi menjadi lima dusun yaitu dusun Persinggahan, dusun
Loloan,dusun Delod Setra, dusun Baler Setre, dan dusun Dauh Pangkung Selepo.
Budaya
yang ada di desa Medewi ada bebagai
macam kesenian budaya seperti Purdah(dikir),Hadrah, dan Sambroh, kesenian
purdah dan hadrah personilnya kaum laki-laki, dan sambroh bagi kaum perempuan,
kemudian peninggalan-peninggalan yang ada berupa prasasti-prasasti seperti tombak,
patung, dan lencana-lencana(surat berharga).
Pariwisata
yang ada di desa medewi adalah pantai medewi(Medewi Beach) yang dimana ada sebuah tanjung pulau yang
menyebabkan adanya ombak yang besar dan kemudian dimamfaatkan sebagai tempat
olahraga selancar( Surfiang), dan penemu pantai Medewi sebagai tempat Surfing
adalah orang Australia “John Davied,
Tahun 1972” (Mansyur,20.00 WITA,24 November 2012, desa Medewi Persinggahan).dan
setelah ditemukannya lokasi Surfing tersebut maka penduduk desa medewi pun, mulai
mempelajari dan menggeluti olahraga Surfing dan
dengan seiring berjalannya waktu, kemudian banyak turis yang berdatangan untuk merasakn ombak yang ada di
Medewi yang terkenal dengan ombaknya yang bagus dan besar, kemudian dengan
banyaknya turis-turis yang datang untuk liburan, akhirnya Masyrakat Medewi
mempunyai sebuah inisiatif untuk mulai membangun penginapan-penginapan bagi
turis yang sedang berlibur dan seiring
perkembangan zaman yang sudah modern penginapan-penginapan tersebut direnovasi
menjadi hotel-hotel mewah dan berkelas yang sesuai standar Internasional.
4.2
Daftar Pustaka
(Mansyur,20.00
WITA,24 November 2012, desa Medewi Persinggahan).