Selasa, 16 April 2013

SEJARAH LOKAL Desa Medewi Bali


Sejarah lokal
Desa medewi
Dosen pengampu: Drs.Abdul Somad,M.Pd
Di susun oleh:
  Alif Rahman Hidayat  (11872010385)




JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI



 
                                                                          
DAFTAR ISI
Bab I  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ............................................................................................................2
1.2  Rumusan masalah.........................................................................................................3
1.3  Tujuan ..........................................................................................................................3
Bab II  Tinjauan Pustaka
2.1 Teori.............................................................................................................................4
2.2 Metodelogi...................................................................................................................4
Bab III  Pembahasan
3.1  Profil Tempat..............................................................................................................5
3.2  Sajian Data..................................................................................................................5
3.3  Interprestasi Data......................................................................................................10
Bab IV Penutup
4.1 Kesimpulan.................................................................................................................11
4.2 Daftar Pustaka............................................................................................................12







 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1           Latar Belakang
             Manusia hidup di berbagai belahan dunia membentuk bangsa-bangsa dengan berbagai bentuk postur, karakter, adat, budaya, dan pandangan hidupnya yang beranekaragam sesuai dengan karakteristik lingkungan alam dan geografis tempat hidup mereka. Proses adaptasi manusia dengan alam akan melahirkan budaya lokal dalam masyarakat.
Dan dalam sejarah lokal  desa medewi, Sebelumnya Medewi ini merupakan hutan Ketket yakni tanaman yang mempunyai banyak  duri. Setelah hutan tersebut dibuka untuk kawasan permukiman penduduk maka orang-orang yang tinggal dan menetap di kawasan inipun semakin bertambah, dan yang perlu kita ketahui bahwa orang asli desa medewi adalah orang pendatang dari desa Air kuning,kecematan Negara kemudian disusul oleh golongan dari masyarakat Loloan Kecamatan Negara dan selanjutnya diikuti oleh golongan dari masyarakat Mendoyo Dauh Tukad kecamatan Mendoyo.
Dan merekapun membuka hutan berduri itu dengan tujuan untuk membangun tempat baru untuk tempat tinggalnya, dan setelah mereka membuka atau membabat hutan tersebut maka mereka kemudian  membagi wilayahnya masing-masing, dan pembagian wilayah tersebut sesuai dengan urutan datangnya mereka, yang pertama datang wilayahnya didepan dan yang datang pertengahan wilayahnya di tengah kemudian yang datang paling belakanagan wilayahnya dipedalaman sampai batas hutan.



1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah kami paparkan diatas maka kami memeiliki beberapa permasalahan diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø  Bagaimanakah Sejarah terbentuknya Desa Medewi?
Ø  Siapakah Masyarakat asli Desa Medewi?
Ø   Budaya apa sajakah yang ada di Desa Medewi?
Ø  Peninggalan-peninggalan apa sajakah yang ada di Desa Medewi?
Ø  Bagaimanakah sistem Pemerintahan di Desa Medewi?
Ø  Pariwisata apakah yang ada di Desa Medewi?
Ø  Filosofi apakah yang ada di Desa Medewi?



1.3 Tujuan
Ø  Mengetahui asal mula kata Medewi di ambil
Ø  Mengetahui orang asli Desa Medewi
Ø  Mengetahui proses terjadinya Desa Medewi
Ø  Mengetahui sistem Pemerintahan di Desa Medewi
Ø  Mengetahui Budaya yang ada di Desa Medewi
Ø  Mengetahui Pariwisata yang ada di Desa Medewi
Ø  Mengetahui Filosofi yang ada di Desa Medewi






 
Bab II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori
Menurut Bapak “Mansyur (mantan Sekdes)” bahwa desa Medewi adalah dulunya hutan yang banyak duri yang ditumbuhi sejenis pohon yang mempunyai duri yang  banyak sekali dan pohon itu  sering dikenal dengan sebutan pohon keket atau pohon api-apian, kemudian dalam bahasa Bali,  arti pohon yang banyak duri itu disebut pohon meduwi, oleh sebab itu masyarakat yang pertama kali tinggal di hutan yang banyak duri ini, memberi nama desa ini dengan sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang banyak duwinya(duri), kemudian lama kelamaan nenek  moyang atau orang tua zaman dulu  yang ada di desa Meduwi ini, sering  memplesetkan kata Meduwi ini menjadi kata Medewi dan dengan sering terjadinya plesetan kata tersebut kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya generasi penerusnya pun ikut-ikutan menyebut kata meduwi menjadi kata medewi hingga saat ini.
2.2 Metodelogi.
Ø      Data dan Sumber data
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif maka sumber data utamanya adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lainnya.




Bab III Pembahasan

3.1 Profil Tempat
Desa Medewi, Kecamatan Pekutatan,Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.
3.2.Sajian Data
 A . Sejarah Nama Medewi
Asal mula kata Medewi diambil dari sebuah kalimat “ hutan yang banyak duri”, hutan yang banyak duri itu adalah  sejenis pohon yang mempunyai duri yang  banyak sekali dan pohon itu  sering dikenal dengan sebutan pohon keket atau pohon api-apian, kemudian dalam bahasa Bali,  arti pohon yang banyak duri itu disebut punyan meduwi, oleh sebab itu masyarakat yang pertama kali tinggal di hutan yang banyak duri ini, memberi nama desa ini dengan sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang banyak duwinya(duri), kemudian lama kelamaan nenek  moyang atau orang tua zaman dulu  yang ada di desa Meduwi ini, sering  memplesetkan kata Meduwi ini menjadi kata Medewi dan dengan sering terjadinya plesetan kata tersebut kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya generasi penerusnya pun ikut-ikutan menyebut kata meduwi menjadi kata medewi hingga saat ini. (Mansyur,20.00 WITA,24 November 2012, desa Medewi Persinggahan).


B. Sejarah Desa Medewi
            Masyarakat pertama yang menemukan dan menempati desa medewi adalah masyarakat dari desa Air Kuning Kecamatan Negara, proses awal mula mereka menemukan desa medewi ini dengan cara berjalan kaki menyusuri pantai sampai kepada tempat tujuan, tempat pertama mereka singgahi adalah muara sungai medewi, yang saat ini dijadikan sebagai pelabuhan jukung atau perahu dan disana mereka mampir untuk singgah dan  istirahat setelah mencari kerang-kerang dan kayu bakar yang ada di pesisir pantai, kemudian  mereka pulang kembali ke desanya (air kuning).dan setelah beberapa hari kemudian  merekapun kembali menyusuri pantai dengan aktivitas yang  sama mencari kerang dan kayu bakar yang banyak terdampar di pesisir pantai, akibat air sungai  yang meluap karena hujan yang besar yang kemudian banyak membawa  potongan-potongan kayu kecil maupun besar dari hutan, dan mereka kembali singgah  untuk beristrahat setelah mencari kerang dan kayu bakar, kemudian mereka beranggapan bahwa tempat  yang  mereka singgahi itu merupakan tempat yang sangat strategis.

Dan karena  posisi tempat persinggahan itu strategis,  Merekapun  pulang dan kembali dengan membawa orang-orang lebih banyak, kemudian gelombang pertama yang datang  itu terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1.      Kelompok pertama menuju kesebelah timur desa  Medewi  yang kemudian  mereka membuka desa, yang saat ini biasa  disebut sebagai desa pulukan dan desa pekutatan.
2.      Dan kelompok ke dua menuju ke desa Medewi yang di pimpin oleh Pak Daris dan Pak Rais,mereka adalah dua  saudara kandung, yang kemudian mereka  diketahui yang membabat hutan dari tempat pertama mereka singgahi sampai masuk ke dalam  hingga panjangnya sampai 2 ½ Km yang saat ini sebagai batas wilayahnya adalah (Pura Dalem) ujung utara desa medewi, oleh karena itu tempat yang pertama mereka singgahi ini sekarang di kenal dengan sebutan dusun persinggahan.
3.      Kemudian kelompok ke tiga menuju sebelah barat desa medewi dan merekapun juga membabat hutan dengan cukup panjang dan luas, kemudian mereka menetap disana dan membangun sebuah desa yang saat ini dikenal dengan sebutan desa Yeh Sumbul.
Awal dibukanya pemukiman di daerah Medewi diperkirakan tahun 1912 dan kemudin terbentuknya desa Medewi  di perkirakan tahun 1914 yang dulunya masih menjadi satu antara medewi dan pulukan, dan dengan  seiringnya berjalan waktu medewi akhirnya ingin membentuk desa sendiri dan akhirnya memisahka diri dari Pulukan  pada tahun 1928,jadi berdirinya desa medewi diperkirakan dari awal mulanya terpisahnya  dengan desa pulukan tahun 1928.
Kemudian gelombang ke dua disusul oleh kelompok rombongan dari desa Loloan kecamatan  Negara,yang dimana mereka  datang dan singgah di dusun persinggahan ini dan menuju ke utara pura dalam( batas desa medewi bagian utara), yang kemudian melanjutkan pembabatan hutan hingga panjangnya sampai 1Km, untuk mereka tempati sebagai tempat tinggal.dan merekapun membentuk sebuah kelompok masyarakat yang saat ini dikenal sebagai kampung Loloan atau Dusun Loloan
Kemudian gelombang ke tiga disusul oleh kelompok rombongan dari desa mendoyo dangin tukad  yang mereka kemudian  masuk ke desa medewi dan berjalan menuju utara untuk melanjutkan pembabatan hutan di utara kampung Loloan tersebut sampai ujung batas hutan, dan  merekapun membentuk sebuah kelompok  kemudian dari orang-orang tersebut rata-rata orangnya  beragama hindu dan darisanalah kemudian mereka memberi nama kelompoknya  sebagai dusun Delod Setre.

Jadi agama yang pertama kali masuk di desa Medewi adalah agama Islam yang berasal dari orang air kuning dan Loloan yng kemudian di susul oleh agama Hindu yang  di bawa oleh orang Mendoyo Dangin Tukad, jadi sampai pada saat ini di desa medewi  terdiri dari dua agama yaitu Islam dan Hindu.

C.  Budaya di Desa Medewi
Menurut Bapak Mansyur  budaya yang ada dimasyarakat medewi semenjak awal munculnya  desa Medewi ada beberapa budaya yaitu:
1.Budaya Purdah (Dikir) adalah sejenis kesenian yang menggunakan alat seperti rebana tapi ukuranya lebih besar, yang isi kesenian ini adalah sebuah syair-syair yang menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rosul, seperti kisah Isra´ dan Mi´raj  perjalanan nabi muhammad dari Masjidil Harom ke Masjidil Axshol menuju ke Hidratul Muntaha.
2.Budaya Hadrah adalah sejenis kesenian yang penjabaran dan perkembangannya dari Purdah yang alatnya seperti rebana dan sejenisnya yang di dalamnya ada sebuah kombinasi-kombinasi gerakan tertentu dan personilnya diambil dari generasi muda dan khsusnya bagi laki-laki.
3. Budaya Sambroh adalah sejenis  budaya yang hampir sama dengan hadrah  yang dimana alat musik yang digunakan seperti rebana dan sejenisnya yang didalamnya ada kombinasi-kombinasi tarian yang dilakukan oleh kaum hawa,(perempuan),khususnya bagi perempuan muda.

D. Peninggalan sejarah Desa Medewi
Menurut Bapak Mansyur  peninggalan-peninggalan dari desa Medewi adalah peninggalan-peninggalan yang berbentuk prasasti-prasasti yang dimana prasasti-prasasti tersebut  sejenis tombak(alat perang),patung-patung,dan lencana-lencana(surat berharga) yang pada saat ini masih disimpan di Pura dalem, tetapi menurut beliu peninggalan-peninggalan sejarah desa Medewi sebenarnya masih banyak, tetapi karena tidak ada yang merawat dan menjaga maka satu persatu peninggalan tersebut hilang dan musnah. Dan yang tersisa pada saat ini sekarang masih tersimpan di Pura dalem.

E. Sistem Pemerintahan Desa Medewi
            Medewi merupakan desa yang ada di Kecamatan Pekutatan,Kabupaten Jembrana ,Provinsi Bali, yang luas wilayahnya sekitar 2.561 ha dengan  jumlah penduduk 3.860 jiwa dan dalam sistem pemerintahan desa terdiri dari beberapa perangkat desa yaitu:
1.      Kepala desa
2.      Sekertaris desa
3.      Kelian dinas atau banjar
4.      Kelian dusun
Kepala desa yang sekarang, di jabat oleh  I Gusti Ketut Nade, dan Sekertaris desa, di jabat oleh      I Ketut Darsana, yang dimana desa Medewi terdiri dari lima dusun yaitu:
1.      Dusun Persinggahan
2.      Dusun Loloan
3.      Dusun Delod Setra
4.      Dusun Baler Setre
5.      Dusun Dauh Pangkung Selepo
F. Pariwisata
Pariwisata yang ada di desa medewi adalah pantai medewi(Medewi Beach)  yang dimana ada sebuah tanjung pulau yang menyebabkan adanya ombak yang besar dan kemudian dimamfaatkan sebagai tempat olahraga selancar( Surfiang), dan penemu pantai Medewi sebagai tempat Surfing adalah orang Australia “John Davied, Tahun 1972” (Mansyur,20.00 WITA,24 November 2012, desa Medewi Persinggahan).dan setelah ditemukannya lokasi Surfing tersebut maka penduduk desa medewi pun, mulai mempelajari dan menggeluti olahraga Surfing dan  dengan seiring berjalannya waktu, kemudian banyak turis yang  berdatangan untuk merasakn ombak yang ada di Medewi yang terkenal dengan ombaknya yang bagus dan besar, kemudian dengan banyaknya turis-turis yang datang untuk liburan, akhirnya Masyrakat Medewi mempunyai sebuah inisiatif untuk mulai membangun penginapan-penginapan bagi turis yang sedang berlibur  dan seiring perkembangan zaman yang sudah modern penginapan-penginapan tersebut direnovasi menjadi hotel-hotel mewah dan berkelas yang sesuai standar Internasional.
Keindahan Bali bukanlah isapan jempol belaka. Dan salah satu pantai yang patut diberikan apresiasi karena keindahannya ialah Pantai Medewi. Pantai ini menjadi tujuan wisata kalangan wisatawan domestik maupun asing karena selain memiliki panorama yang memukau juga akses jalan untuk menjangkaunya sangat mudah. Untuk mencapai pantai ini, cukup dengan berjalan kaki sekitar 100 meter dari Jalan Raya Denpasar – Gilimanuk. Sehingga karenanya, banyak diantara turis lokal khususnya (terutama backpacker) yang menggunakan modal transportasi umum untuk berkunjung ke Medewi.
Di sepanjang perjalanan menuju ke kawasan Pantai Medewi ini akan terhampar pemandangan sawah-sawah yang luas dan berjejer di sepanjang tepian pantai sehingga menambah kesan alami dan eksotis. Terlebih kalau Anda berkunjung ke Pantai Medewi ini berbarengan dengan musim panen maka akan terlihat padi yang menguning disertai dengan segala aktifitas petani yang sedang memetik hasil padinya. Pemandangan tersebut tentu akan memberikan impirasi tersendiri sehingga tak jarang banyak wisatawan yang berusaha mengabadikan momen-momen langka itu dengan kamera yang dibawanya.
Memasuki kawasan pantainya, maka Anda akan menemukan pantai yang berbatu dengan sapuan ombaknya yang tergolong besar. Secara umum, bentuk pantai ini landai di bagian baratnya dan terlihat lekukan yang memanjang ke arah selatan. Disamping itu ada jejeran perahu-perahu nelayan yang diatmbatkan di tepi pantai sehingga akan menambah daya tarik dan keindahannya. Karena ombaknya yang terbilang besar maka pengunjung yang hendak berenang diharap untuk berhati-hati supaya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.
Panorama keindahan pantai akan semakin terasa tatkala sore menjelang dimana lembayung senja yang begitu memesona akan terlihat. Itulah momen yang ditunggu-tunggu oleh para wisatawan dimana mereka bisa menyaksikan matahari kembali ke peraduannya (sunset). Momen sunset ini akan semakin terasa paripurna dan sempurna tatkala Anda datang kesini disertai dengan kekasih atau orang yang paling dicintai supaya hal yang paling dinantikan tersebut bisa dinikmati bersama. Sungguh keadaan tersebut akan mencipta kenangan dan impresi didalam jiwa yang tak mungkin terlupakan mungkin dalam seumur hidup.
Sementara dibagian atas pantai ini sudah terpasang sandaran yang dimaksudkan supaya para pengunjung bisa menimkmati keindahan dan panorama Medewi secara sempurna. Dari sandaran itu pula pengunjung bisa menyaksikan laut sekitar Medewi beserta dengan ombaknya yang besar sembari bersantai menikmati keadaan sekitar. Keadaan seperti itulah yang biasanya banyak membuat wisatawan kangen dan ingin berkunjung ke Medewi lagi dan lagi. Pesona Medewi memang tak akan pernah dimakan zaman, dan tak akan sirna dihempaskan masa.(www.Medewibeach.com)
 

G.Filosofi
pohon keket atau pohon api-apian adalah pohon yang bnyak duri yang kemudian dalam bahasa Bali,  arti pohon yang banyak duri itu disebut pohon meduwi, oleh sebab itu masyarakat yang pertama kali tinggal di hutan yang banyak duri ini, memberi nama desa ini dengan sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang banyak duwinya(duri).
Budaya Purdah (Dikir) adalah sejenis kesenian yang menggunakan alat seperti rebana tapi ukuranya lebih besar, yang isi kesenian ini adalah sebuah syair-syair yang menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rosul, seperti kisah Isra´ dan Mi´raj  perjalanan nabi muhammad dari Masjidil Harom ke Masjidil Axshol menuju ke Hidratul Muntaha.

3.3 Interprestasi Data
     Dari hasil Hipotesa yang didapatkan yang berawal dari Teori para tokoh ,bahwa desa Medewi adalah sebuah desa yang dulunya banyak terdapat hutan berduri, yang kemudian oleh masyarakat pendatang dari Air kuning, Loloan dan Mendoyo dangin Tukad ini kemudian membabat hutan tersebut hingga ke batas hutan yang paling dalam, dan dengan banyaknya hutan berduri tersebut akhirnya desa ini dinamakan sebagai desa Meduwi dan oleh masyrakat penduduk setempat kata Meduwi sering diplesetkan menjadi kata Medewi hingga pada saat ini, Medewi merupakan desa yang ada di Kecamatan Pekutatan,Kabupaten Jembrana ,Provinsi Bali, yang luas wilayahnya sekitar 2.561 ha dengan  jumlah penduduk 3.860 jiwa   dan di zaman Modern sekarang ini desa Medewi terkenal dengan keindahan pantainya, yang mempunyai daya tarik tersendiri yaitu ombaknya yang besar yang bisa dimamfaatkan sebagai ajang olahraga Surfing, bagi masyarakat sekitar dan Turis-turis yang sedang berlibur.


Bab IV Penutup

 4.1 Kesimpulan
Desa Medewi merupakan desa yang pertama kali ditemukan oeh masyrkat pendatang dari desa air kuning, Loloan dan Mendoyo dangin tukad dan yang dulunya hanya hutan yang banyak ditumbuhi pohon berduri atau sering dikenal dengan sebutan pohon keket atau pohon api-apian, kemudian dalam bahasa Bali,  arti pohon yang banyak duri itu disebut pohon meduwi, oleh sebab itu masyarakat yang pertama kali tinggal di hutan yang banyak duri ini, memberi nama desa ini dengan sebutan desa Meduwi yang artinya desa yang banyak duwinya(duri), kemudian lama kelamaan nenek  moyang atau orang tua zaman dulu  yang ada di desa Meduwi ini, sering  memplesetkan kata Meduwi ini menjadi kata Medewi dan dengan sering terjadinya plesetan kata tersebut kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya generasi penerusnya pun ikut-ikutan menyebut kata meduwi menjadi kata medewi hingga saat ini.
 dan luas wilayah desa Medewi 2.561 ha dengan jumlah Penduduk 3.860 jiwa, dengan sistem pemerintahan yang terdiri dari beberapa perangkat desa seperti Kepala Desa, Sekertaris Desa, Kelian dinas(banjar) dan Kelian dusun,dan terbagi menjadi lima dusun yaitu dusun Persinggahan, dusun Loloan,dusun Delod Setra, dusun Baler Setre, dan dusun Dauh Pangkung Selepo.
Budaya yang ada di desa Medewi  ada bebagai macam kesenian budaya seperti Purdah(dikir),Hadrah, dan Sambroh, kesenian purdah dan hadrah personilnya kaum laki-laki, dan sambroh bagi kaum perempuan, kemudian peninggalan-peninggalan yang ada berupa prasasti-prasasti seperti tombak, patung, dan lencana-lencana(surat berharga).
Pariwisata yang ada di desa medewi adalah pantai medewi(Medewi Beach)  yang dimana ada sebuah tanjung pulau yang menyebabkan adanya ombak yang besar dan kemudian dimamfaatkan sebagai tempat olahraga selancar( Surfiang), dan penemu pantai Medewi sebagai tempat Surfing adalah orang Australia “John Davied, Tahun 1972” (Mansyur,20.00 WITA,24 November 2012, desa Medewi Persinggahan).dan setelah ditemukannya lokasi Surfing tersebut maka penduduk desa medewi pun, mulai mempelajari dan menggeluti olahraga Surfing dan  dengan seiring berjalannya waktu, kemudian banyak turis yang  berdatangan untuk merasakn ombak yang ada di Medewi yang terkenal dengan ombaknya yang bagus dan besar, kemudian dengan banyaknya turis-turis yang datang untuk liburan, akhirnya Masyrakat Medewi mempunyai sebuah inisiatif untuk mulai membangun penginapan-penginapan bagi turis yang sedang berlibur  dan seiring perkembangan zaman yang sudah modern penginapan-penginapan tersebut direnovasi menjadi hotel-hotel mewah dan berkelas yang sesuai standar Internasional.


4.2           Daftar Pustaka

(Mansyur,20.00 WITA,24 November 2012, desa Medewi Persinggahan).
(www.Sejarah Medewi.com)

2 komentar:

  1. bagus lif,
    ane mau pake ini sebagai bahan refrensi skripsi..
    suwunnn

    BalasHapus
  2. uye smoga bermamfaat bagi kita semua

    BalasHapus